BANDARLAMPUNG --- Stadion Sumpah Pemuda Way Halim, Lampung pasti menjadi pembicaraan nasional para insan sepakbola terkhusus di Liga Super tahun ini.
Kenapa?
Ini sangat beralasan, karena Stadion ini sekarang adalah
“kandang abadi” tim Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Tim ini dalam enam pertandingan terakhir seperti terlahir
kembali sepert tim Bhayangkara FC tahun 2017 saat Liga Indonesia level 1
bergulir untuk pertama kalinya bernama Liga 1.
Bhayangkara kini menjelma menjadi Bhayangkara Presisi
Lampung FC, yang pada awalnya tidak meyakinkan dan sempat bongkar pasang skuad
dan membeli pemain-pemain baru yang hingga saat ini bisa dikatakan sebagai tim
dengan skuad cukup mewah.
Tahun 2026 menjadi momentum kebangkitan The Guardian,
setelah diakhir tahun putaran pertama terjadi “kecelakaan” yang menyebabkan
sang COO, Sumardji murka. Dan tentu ini merupakan cambuk yang amat tajam untuk
membangunkan keterlenaan skuad the Guardian of Saburai secara menyeluruh.
Beberapa hal yang juga menyebabkan pasukan Paul Munster
menjadi tersengat, agar tidak bermain-main jika ma uterus berlayar bersama
Bhayangkara FC, semuanya harus focus pada setiap pertandingan.
Stadion Utama Sumpah Pemuda kian menjadi semakin “Angker”
dengan bertumbangan tim-tim tamu yang selama tiga kali bertandang ke Way Halim
selalu pulang dengan lesu.
Mimpi Gubernur
Beri Tontonan
Saya masih ingat saat pak Gubernur menyampaikan sebuah
gagasan yang cukup “nekad” dengan mendatangkan tim Liga 1 dengan base camp di
PKOR Way Halim yakni stadion Sumpah Pemuda.
“Mimpi saya, ingin memberikan tontonan untuk masyarakat
Lampung khususnya generasi muda untuk bisa menyaksikan langsung para pemain
sepakbola hebat di lapangan kita sendiri. Saya ingat semasa SMA, selalu datang ke
stadion bersama teman-teman untuk nonton pertandingan sepakbola, meski bukan
liga 1,” katanya waktu wawancara dengan beliau usai membuka Liga Turnamen Liga
4 Piala Gubernur Lampung dua tahun lalu.
Saat itu, Gubernur Mirzani sudah terpilih meski belum
dilantik. Dan tekad itu sudah dicanangkan untuk memiliki tim Liga 1, meskipun
harus merombak stadion Sumpah Pemuda 90 persen lebih, agar standar nasional
terpenuhi.
Dan kini tim yang berat melangkah sejak awal musim, sudah
menunjukkan betapa kilatan “pedang sang pelindung” yang amat tajam. Meski berat
untuk menggapai trophy kembali, namun minimal posisi di papan atas akan semakin
aman.
Selain itu, Bhayangkara FC juga sudah bulat tekadnya
untuk menetap di Lampung, meskipun belum nge-blend betul dengan masyarakat Lampung, namun sudah mulai berupaya
mendekat dan mau menyapa. Tim ini sudah tidak lagi seratus persen seperti tuan
rumah rasa tim tamu.
Mungkin maksud Gubernur Mirzani juga begitu seharusnya.
Tim ini sudah harus bisa menyatu dengan masyarakat sepakbola di Lampung,
meskipun belum bisa mengakomodir satu atau dua pemain Lampung di dalam tim,
karena berbagai hal.
Yang juga diharapkan adalah penonton bisa tetap hadir dan memenuhi stadion, di semua sisa pertandingan Bhayangkara FC di kandang, karena masih ada 4 pertandingan yang harus dijalankan di Sumpah Pemuda.
Namun suara penonton juga patut didengar, bahwa jika tim ini mau cintai
masyarakatnya, maka harus mempertimbangkan sisi bisnisnya, agar tidak memberatkan
masyarakat, yang ingin menonton langsung ke stadion.
“Jangan naiknya tiket dua kali lipat dong. Ini kan untuk
hiburan rakyat Lampung, bukan bisnis semata-mata. Buatlah masyarakat ini seneng
dulu untuk hadir ke stadion. Jangan tiba-tiba tiket sudah habis dan akhirnya
masih dijual dengan harga melambung tinggi. Ini menyakiti hati kami. Gak sesuai
dengan janji Gubernur untuk bisa memberikan hiburan. Yang wajar saja kalua mau
cari untung,” kata Lukman Sunardi, penggemar Sepakbola asal Bandarlampung.
Rekrutan Terbaik
Kunci sukses Bhayangkara sejauh ini karena melakukan
rekruitmen pemain yang benar, yakni dengan mendatangkan beberapa pemain bagus
seperti Privat Mbarga dan Moussa Sidibe.
Sidibe direkrut oleh Bhayangkara FC pada Januari 2026.
Ia didatangkan dari klub raksasa Malaysia, Johor Darul Ta'zim (JDT).
Meskipin musim sebelumnya Sidibe pernah bermain di Persis Solo, namun tidak
berkembang seperti ini.
Kemudian
tiga pemain lainnya yakni Bernard Doumbia, striker asal Pantai Gading yang direkrut resmi pada Januari
2026 dari klub FC Al-Karamah (Suriah). Lautaro Belleggia, Gelandang asal Argentina yang didatangkan untuk memperkuat
kreativitas lini tengah dan Jean
Befolo Mbarga, Penyerang sayap, Pemain
naturalisasi Kamboja yang dipinjam untuk menambah daya gedor di putaran kedua.
Dari rekrutan itu, memang menunjukkan hasil yang luar
biasa dan menggemparkan Super League Indonesia, karena pencapaian yang sangat
impresif hingga pertandingan pekan 26. Musim ini masih menyisakan 8
pertandingan hingga minggu ke-34.
Enam kemenangan
Bhayangkara sejak Februari 2026 mampu merajut kemenangan
dari tim-tim besar Indonesia, dimulai dari saat bertandang ke Surabaya 14
Februari. Nehar Sadiki dan kawan-kawan membawa pulang 3 poin setelah
mengalahkan “Bajul Ijo” dengan 2-1.
Sepekan kemudian dalam “Perang Ganter” di Kediri, pasukan
Bhayangkara FC berhasil kembali meraih poin penuh setelah jual beli gol hingga
akhir pertandingan dengan skor 4-3 melawan Persik Kediri.
Pada 24 Februari 2026, Bhayangkara FC kembali “memakan
korban” tamunya Semen Padang di Sumpah Pemuda Bandarlampung, dengan skor
mentereng 4-0.
Kemenangan kembali diraih dikandang lawan di Banten. Kali
ini Dewa United Banten yang juga bertabur pemain nasional dipaksa menelan
kekalahan 0-2 oleh Bhayangkara.
Dua pertandingan di kandang kembali menjadi penentu
semakin “gaharnya” pasukan Paul Munster, setelah memetik kemenangan tamunya
Arema FC pada 10 Maret 2026 dengan skor 2-1, dan atas Persija dengan skor 3-2.
Kemenangan di pertandingan terakhir melawan Persija ini
semakin meneguhkan bahwa sebelum pertandingan belum benar-benar usai, tidak
boleh ada yang menebak-nebak skor.
Dalam pertandingan terakhir itu, selain menghambat ambisi
Persija Jakarta mengejar gelar Liga, sekaligus Bhayangkara FC merangsek ke
papan atas.
Dengan rekor tak terkalahkan selama 6 pertandingan
berturut-turut ini, tentu akan membuat seluruh lawan Bhayangkara akan berfikir
saat berhadapan dengan tim ini.
Berikut adalah jadwal pertandingan sisa tersebut dalam
bentuk kalimat:
Pekan 27 Persijap Jepara, Sabtu, 11 April 2026 (19:00), Tandang.
Pada pekan ke-28, Bhayangkara FC akan menghadapi PSIM
Yogyakarta dalam laga kandang pada Jumat, 17 April 2026, pukul
15:30 WIB.
Pekan ke-29 berlanjut dengan laga tandang melawan Persis
Surakarta pada Rabu, 22 April 2026, pukul 15:30 WIB.
Di pekan ke-30, tim akan menjamu Persib Bandung di kandang pada
Kamis, 30 April 2026, pukul 19:00 WIB.
Selanjutnya pada pekan ke-31, Bhayangkara FC melakoni
laga tandang ke markas PSM Makassar pada Senin, 4 Mei 2026,
pukul 15:30 WIB.
Pekan ke-32 kembali ke kandang untuk
melawan Madura United pada Senin, 11 Mei 2026, pukul 19:00 WIB.
Laga pekan ke-33 adalah pertandingan tandang menghadapi Bali
United pada Minggu, 17 Mei 2026, pukul 15:30 WIB.
Pertandingan terakhir pada pekan ke-34 ditutup dengan laga kandang melawan PSBS Biak pada Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 19:00 WIB. (donpecci)
Berikan Komentar