Membuka Sekat Antarcabang Olahraga demi Menggali Potensi Atlet Indonesia
Mediasenior | Jakarta | Sport | 27 Oktober 2026
---- Dunia olahraga terus berkembang. Metode latihan
semakin ilmiah, teknologi semakin maju, dan pembinaan atlet semakin terbuka
terhadap berbagai pendekatan baru. Namun, di tengah perubahan itu, muncul
pertanyaan mendasar dalam pembinaan olahraga Indonesia: mengapa pengalaman dan
keterampilan dari cabang olahraga lain terkadang masih dipandang sebagai
sesuatu yang harus dihindari, bahkan dibatasi?
Krisna Bayu, Olympian Judo Indonesia, menilai
sudah waktunya ekosistem olahraga nasional membuka ruang diskusi yang lebih
luas mengenai cross-sport atau pendekatan lintas cabang olahraga. Menurutnya,
atlet seharusnya memperoleh kesempatan mengembangkan kemampuan berdasarkan kebutuhan,
bakat, minat, dan potensi mereka, tanpa terhambat oleh sekat organisasi yang
tidak memiliki alasan teknis yang jelas.
“Cross-sport bukan ancaman bagi cabang olahraga.
Ini peluang untuk memperkaya kemampuan atlet, memperluas ilmu pelatih, dan
menemukan potensi yang mungkin belum tergali. Yang harus kita utamakan adalah
perkembangan atlet dan prestasi olahraga Indonesia,” demikian gagasan yang
disampaikan Krisna Bayu.
Cross-sport bukan sekadar berpindah cabang. Istilah
cross-sport sering dipahami secara sederhana sebagai perpindahan atlet
dari satu cabang olahraga ke cabang lainnya. Padahal, cakupannya lebih luas.
Dalam praktiknya, terdapat tiga pendekatan yang perlu
dibedakan.
Pertama, cross-training, yakni menggunakan metode latihan
dari cabang lain untuk mendukung kebutuhan fisik dan keterampilan pada cabang
utama. Seorang atlet judo, misalnya, dapat memanfaatkan latihan sprint untuk
meningkatkan kecepatan masuk ke teknik, latihan kekuatan untuk meningkatkan
daya ledak, atau latihan keseimbangan untuk memperbaiki kontrol tubuh.
Kedua, cross-sport development, yakni
pembinaan yang memanfaatkan unsur positif dari beberapa cabang olahraga untuk
membangun kemampuan gerak dasar, koordinasi, kelincahan, keseimbangan,
kekuatan, dan pemahaman gerak atlet, khususnya pada usia dini.
Ketiga, talent transfer, yaitu proses ketika atlet yang
telah memiliki pengalaman dan kemampuan terlatih di satu cabang beralih ke
cabang lain yang dinilai sesuai dengan karakteristik fisik, keterampilan, dan
potensi prestasinya.
Ketiga pendekatan tersebut tidak identik, tetapi memiliki
benang merah: pengalaman olahraga tidak harus berhenti pada batas satu cabang.
Pengetahuan dan keterampilan tertentu dapat dipelajari, diuji, lalu diadaptasi
sesuai kebutuhan cabang yang menjadi tujuan.
Tentu saja, tidak semua keterampilan dapat dipindahkan
secara langsung. Teknik, taktik, peraturan, dan tuntutan pertandingan setiap
cabang tetap harus dipelajari secara khusus. Cross-sport bukan jalan
pintas untuk menguasai olahraga lain, melainkan cara memperluas sumber
pembelajaran.
Dunia olahraga sudah memberikan contoh nyata. Gagasan
lintas cabang bukan sekadar teori. Sejumlah atlet internasional telah
menunjukkan bahwa pengalaman dari satu cabang dapat menjadi modal untuk
menapaki cabang lainnya.
Clarissa Chun
Clarissa Chun, pegulat Amerika Serikat, memiliki latar
belakang judo sejak usia muda sebelum menekuni gulat. Pengalaman judo
memberinya bekal awal, terutama dalam pemahaman lemparan, ketika mulai
berkompetisi di gulat. Ia kemudian meraih gelar juara dunia gulat pada 2008 dan
medali perunggu Olimpiade London 2012.
Dari sumber USA Wrestling dan Hawaii Sports Hall of Fame
ditulis kisah Chun memperlihatkan bagaimana keterampilan yang dibangun dalam
satu olahraga dapat menjadi modal untuk berkembang di olahraga lain. Namun,
prestasinya juga menunjukkan bahwa modal awal tersebut tetap harus disertai
latihan khusus, kompetisi, dan penguasaan teknik gulat.
Montell Douglas
Montell Douglas merupakan mantan sprinter Inggris yang
berkompetisi pada Olimpiade Beijing 2008 di nomor 100 meter. Setelah beralih ke
bobsleigh, ia terpilih memperkuat Inggris pada Olimpiade Musim Dingin Beijing
2022.
Kecepatan sprint menjadi modal penting dalam fase awal
mendorong kereta bobsleigh. Akan tetapi, Douglas tetap harus mempelajari
karakteristik teknis, tuntutan keselamatan, dan keterampilan khusus olahraga
musim dingin tersebut.
Kisah ini membuktikan bahwa kemampuan yang dikembangkan
dalam atletik dapat memiliki nilai dalam cabang lain ketika terdapat kesesuaian
kebutuhan fisik dan proses adaptasi yang tepat. (Sumber: Team GB).
Ashleigh Nelson
Pada 2026, mantan sprinter Inggris Ashleigh Nelson
terpilih untuk berkompetisi dalam bobsleigh di Olimpiade Musim Dingin Milano
Cortina. Setelah tidak memperoleh tempat di Olimpiade Paris 2024 dalam cabang
atletik, ia mencoba jalur baru dan menjalani transisi menuju bobsleigh bersama
atlet lain yang juga berlatar belakang atletik.
Perjalanan Nelson memperlihatkan bahwa ketika satu jalur
prestasi tidak lagi terbuka, keterampilan yang telah dibangun selama
bertahun-tahun masih dapat memiliki nilai di lingkungan olahraga yang berbeda.
Perpindahan tersebut tentu tidak menjamin keberhasilan, tetapi dapat membuka
peluang yang sebelumnya tidak terpikirkan. Sumber: Team GB, Februari 2026.
Contoh-contoh itu memberikan pelajaran penting: atlet
tidak harus kehilangan seluruh nilai pengalaman masa lalunya ketika mempelajari
cabang baru. Yang diperlukan adalah mengenali kemampuan yang dapat ditransfer,
menentukan kekurangan yang harus diperbaiki, dan menyusun program latihan yang
sesuai.
Ilmu pengetahuan mendukung eksplorasi, bukan janji
keberhasilan instan
Pendekatan lintas cabang juga menjadi perhatian
penelitian olahraga. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam jurnal
Frontiers in Sports and Active Living pada 9 Mei 2024 menelaah 12 artikel
ilmiah tentang jalur talent transfer.
Penelitian tersebut mendefinisikan talent transfer
sebagai jalur percepatan menuju tingkat keahlian tinggi, ketika atlet yang
telah terlatih di cabang asal beralih ke cabang tujuan dengan potensi meraih
prestasi tinggi.
Para peneliti mengidentifikasi bahwa keberhasilan proses
tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain karakteristik atlet,
tuntutan tugas dalam cabang tujuan, dan lingkungan pembinaan. Mereka juga
menyoroti masih terbatasnya penelitian khusus di bidang ini.
Artinya, bukti ilmiah mendukung pentingnya mengeksplorasi
dan merancang jalur perpindahan atlet secara sistematis. Namun, penelitian
tersebut tidak membenarkan klaim bahwa semua perpindahan cabang pasti berhasil
atau bahwa setiap metode latihan lintas cabang otomatis meningkatkan prestasi. Sumber:
Green dkk., Frontiers in Sports and Active Living, 2024.
Perbedaan ini penting. Pembinaan modern tidak seharusnya
menerima suatu metode hanya karena terlihat menarik, tetapi juga tidak
semestinya menolaknya sebelum diuji. Pendekatan yang tepat adalah merumuskan
tujuan, memeriksa bukti, menilai risiko, menjalankan uji coba, dan mengevaluasi
hasilnya.
Mengapa larangan menyeluruh perlu dipertanyakan?
Dalam praktik pembinaan, sejumlah organisasi olahraga
dapat menetapkan pembatasan terkait keikutsertaan atlet pada kompetisi lain,
penggunaan fasilitas, kontrak, jadwal latihan, keselamatan, atau kepentingan
seleksi. Sebagian aturan mungkin memiliki alasan yang sah dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Masalah muncul ketika pembatasan yang seharusnya spesifik
berubah menjadi penolakan menyeluruh terhadap pengalaman lintas cabang, tanpa
penjelasan mengenai risiko, tujuan, maupun dasar aturannya.
Atlet yang mengikuti latihan tambahan di cabang lain
tidak otomatis mengabaikan cabang utamanya. Seorang judoka yang mempelajari
latihan kekuatan, misalnya, tidak sedang meninggalkan judo. Atlet yang belajar
koordinasi melalui senam juga tidak serta-merta mengurangi komitmennya terhadap
cabang utama.
Demikian pula, seorang atlet yang ingin mencoba kompetisi
pada cabang berbeda perlu dinilai berdasarkan peraturan kompetisi yang berlaku,
kesiapan teknis, keselamatan, dan komitmen pembinaannya. Hak untuk
mengeksplorasi potensi tidak berarti semua aturan pertandingan boleh diabaikan.
Karena itu, yang perlu dibangun bukan kebebasan tanpa
batas, melainkan keterbukaan yang bertanggung jawab. Organisasi olahraga perlu
menjelaskan alasan pembatasan, membedakan latihan tambahan dari perpindahan
cabang, dan menyediakan mekanisme evaluasi yang adil.
Jangan sampai aturan yang dirancang untuk menjaga
kualitas pembinaan justru menutup peluang belajar yang sebenarnya dapat memberi
manfaat kepada atlet.
Atlet usia dini membutuhkan kesempatan untuk berkembang
Persoalan ini semakin penting ketika berbicara tentang
anak-anak dan atlet usia dini. Pada tahap perkembangan, mereka membutuhkan
kesempatan mengenal berbagai bentuk gerak sebelum tuntutan spesialisasi semakin
besar.
Permainan atletik dapat membantu mengembangkan kecepatan
dan koordinasi. Senam dapat memperkaya keseimbangan serta kesadaran tubuh.
Permainan bola dapat melatih pengambilan keputusan, orientasi ruang, dan kerja
sama. Latihan bela diri dapat membantu mengembangkan kontrol tubuh, disiplin,
dan pemahaman gerak sesuai usia serta standar keselamatan.
Bukan berarti semua anak harus mengikuti banyak cabang
sekaligus. Kebutuhan setiap anak berbeda, begitu pula minat, kondisi fisik,
kesempatan, dan tujuan pembinaannya.
Yang harus dihindari adalah memaksa spesialisasi terlalu
dini tanpa mempertimbangkan perkembangan anak, atau menutup kesempatan mencoba
olahraga lain hanya karena mereka telah terdaftar pada satu klub.
Dalam olahraga prestasi, spesialisasi tetap dibutuhkan
ketika tuntutan teknik dan kompetisi mengharuskannya. Namun, spesialisasi tidak
semestinya disamakan dengan larangan mempelajari keterampilan dari olahraga
lain.
Atlet dapat memiliki satu cabang utama sekaligus tetap
memperoleh manfaat dari pengalaman gerak yang lebih luas. Pendekatan tersebut
perlu dirancang oleh pelatih dan tenaga pendukung berdasarkan usia, tahap
perkembangan, kebutuhan cabang, beban latihan, dan risiko cedera.
Apa kata aturan olahraga Indonesia dan Olympism?
Dalam konteks Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2022 tentang Keolahragaan memberikan landasan penting untuk membicarakan
kesempatan berolahraga.
Pasal 5 memuat prinsip penyelenggaraan keolahragaan,
sedangkan Pasal 6 menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama,
antara lain untuk melakukan kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti cabang
olahraga sesuai bakat dan minat, memperoleh pembinaan dan pengembangan
keolahragaan, serta meningkatkan prestasi dan mengikuti kejuaraan pada berbagai
tingkatan.
Ketentuan ini relevan untuk mendorong ekosistem olahraga
yang memberikan kesempatan berkembang secara adil. Namun, ketentuan tersebut
tidak dengan sendirinya menghapus peraturan teknis setiap federasi atau
memberikan hak otomatis kepada atlet untuk mengikuti semua kompetisi tanpa
memenuhi persyaratan. Sumber: JDIH Kemenpora dan basis data peraturan BPK.
Prinsip Fundamental Olympism keempat juga menegaskan
bahwa praktik olahraga merupakan hak asasi manusia dan setiap individu harus
memiliki kesempatan untuk berolahraga tanpa diskriminasi yang bertentangan
dengan hak asasi manusia yang diakui secara internasional dalam lingkup Gerakan
Olimpiade.
Prinsip ini memberi arah etis agar olahraga dikelola
dengan menghormati manusia, menjunjung persahabatan, solidaritas, dan fair
play. Penerapannya tetap perlu dibaca bersama aturan kompetisi dan kewenangan
organisasi olahraga yang berlaku. Sumber: Olympic Charter, Komite Olimpiade
Internasional.
Dengan demikian, perdebatan cross-sport seharusnya tidak
dibangun sebagai pertentangan antara kebebasan atlet dan kewenangan federasi.
Tantangannya adalah bagaimana kewenangan tersebut digunakan secara
proporsional, transparan, dan berpihak pada pengembangan atlet.
Saatnya membangun ekosistem olahraga yang terbuka
Krisna Bayu menilai Indonesia perlu mengembangkan
pendekatan yang lebih kolaboratif. Induk organisasi cabang olahraga, klub,
pelatih, akademisi, tenaga medis, dan pengelola olahraga dapat bekerja sama
menyusun pedoman latihan lintas cabang yang aman dan terukur.
Ada beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan.
Pertama, membedakan secara tegas latihan lintas cabang,
partisipasi kompetisi lintas cabang, dan perpindahan cabang. Ketiganya
mempunyai konsekuensi teknis dan administratif yang berbeda.
Kedua, menetapkan dasar pembatasan yang transparan. Jika
ada larangan, organisasi perlu menjelaskan apakah larangan tersebut berkaitan
dengan keselamatan, beban latihan, kontrak, kelayakan kompetisi, atau alasan
lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, mengembangkan program percontohan. Klub atau
pusat pembinaan dapat menguji metode latihan dari cabang lain dengan target
yang jelas, seperti peningkatan kekuatan, keseimbangan, koordinasi, atau
kemampuan mengambil keputusan. Hasilnya harus dievaluasi, bukan diasumsikan
berhasil.
Keempat, memperkuat koordinasi antarpelatih dan tenaga
pendukung. Latihan lintas cabang perlu masuk dalam perencanaan beban latihan
agar tidak menambah risiko kelelahan, cedera, atau gangguan pemulihan.
Kelima, memberikan ruang kepada atlet untuk menyampaikan
aspirasi. Atlet bukan sekadar objek program pembinaan, melainkan pelaku
olahraga yang memiliki tujuan, pengalaman, dan hak untuk mendapatkan informasi
serta kesempatan berkembang.
Pendekatan seperti ini akan membantu organisasi menjaga
standar cabang masing-masing sekaligus memanfaatkan pengetahuan dari lingkungan
olahraga yang lebih luas.
Jangan biarkan sekat mengalahkan potensi
Olahraga pada akhirnya bukan hanya tentang mempertahankan
batas organisasi, melainkan tentang mengembangkan kemampuan manusia sampai pada
tingkat terbaiknya.
Setiap atlet memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang
menemukan prestasi melalui spesialisasi sejak muda. Ada yang berkembang melalui
pengalaman dari beberapa cabang. Ada pula yang menemukan peluang baru setelah
beralih ke olahraga lain.
Tidak satu pun jalur tersebut boleh dianggap sebagai
jawaban universal. Tugas pembinaan adalah mengenali jalur yang paling sesuai
bagi atlet, bukan memaksakan satu pola kepada semua orang.
“Wahai para pemimpin olahraga Indonesia, ingatlah bahwa
atlet adalah generasi muda bangsa yang memiliki mimpi, pengorbanan, dan
harapan. Jangan biarkan aturan yang tidak memiliki dasar yang jelas mematikan
rasa ingin tahu dan kesempatan mereka untuk berkembang. Jika ada pembatasan,
jelaskan alasannya. Jika ada peluang untuk meningkatkan kemampuan, mari kita
uji bersama,” demikian pesan yang ingin ditegaskan melalui gagasan cross-sport
ini.
Pada akhirnya, prestasi besar tidak selalu lahir dari
cara berpikir yang sama. Kemajuan sering dimulai ketika seseorang berani
mempelajari sesuatu yang sebelumnya belum pernah dicoba, kemudian mengujinya
dengan disiplin dan tanggung jawab.
Atlet boleh memiliki cabang utama. Federasi boleh menjaga
standar kompetisi. Pelatih wajib memastikan keselamatan dan kualitas latihan.
Namun, semua itu seharusnya berjalan menuju satu tujuan bersama: membuka
kesempatan bagi atlet untuk berkembang dan meraih prestasi setinggi mungkin.
“Sekali lagi, Cross-sport bukan ancaman. Cross-sport
adalah peluang—apabila dijalankan dengan ilmu, keselamatan, aturan yang jelas,
dan keberanian untuk terus belajar.” Tutup Krina Bayu. (tim)
Berikan Komentar